Ada masa ketika saya benar-benar takut sendirian. Bukan takut dalam arti horor—takut hantu atau pencuri. Takut yang lebih halus dari itu. Takut menghadapi keheningan, takut tidak ada suara yang mengisi ruang, takut mendengar pikiran sendiri terlalu lama.
Setiap kali rumah sepi, saya nyalakan TV. Tidak ditonton. Hanya untuk ada suara. Setiap kali di jalan sendirian, earphone harus terpasang. Setiap kali di kafe menunggu seseorang, ponsel harus terbuka. Saya kira saya sedang mengisi waktu. Padahal saya sedang melarikan diri dari diri sendiri.
Mengapa Kita Lari dari Sendiri?
Sendirian membuat kita terbuka pada hal-hal yang sehari-hari kita coba abaikan. Saat ramai, kita bisa terus sibuk—sibuk bicara, sibuk merespons, sibuk membandingkan. Saat sendirian, semuanya berhenti. Yang tersisa hanya kita, dengan segala isi kepala dan dada.
Dan isi kepala dan dada itu—jujur saja—tidak selalu indah. Ada keraguan, ada penyesalan, ada kekhawatiran tentang masa depan, ada luka yang belum sempurna sembuh. Wajar kalau kita ingin lari. Wajar kalau kita lebih nyaman dikelilingi keramaian.
Tapi ada harga yang harus dibayar untuk pelarian itu. Kita jadi tidak mengenal diri sendiri. Setiap keputusan diambil berdasarkan suara orang lain. Setiap kebahagiaan ditentukan oleh validasi eksternal. Setiap kesedihan bergantung pada siapa yang menemani—dan kalau tidak ada, kesedihan jadi tidak tertanggung.
Sendirian Versus Kesepian
Penting untuk membedakan dua hal ini. Sendirian adalah kondisi fisik—tidak ada orang lain di sekitar. Kesepian adalah kondisi emosional—merasa terputus, tidak dipahami, tidak dilihat. Keduanya bisa terjadi bersamaan, tapi tidak harus.
Orang bisa sendirian tanpa merasa kesepian. Mereka punya hubungan yang sehat dengan diri sendiri. Sendirian, bagi mereka, adalah ruang—bukan beban. Sebaliknya, banyak orang merasa kesepian justru ketika dikelilingi orang. Pesta penuh, tapi dadanya kosong. Grup chat ramai, tapi tidak ada yang benar-benar dia ceritakan.
Kuncinya bukan menghindari sendirian, melainkan belajar bagaimana hadir dalam sendirian itu sendiri. Tanpa rasa hampa, tanpa rasa harus segera mengisinya dengan apa pun.
Apa yang Bisa Diajarkan Sendirian?
Kalau kita berani duduk dengan sendirian cukup lama, ia akan mulai bicara. Bukan dalam arti spiritualistik berlebihan. Maksud saya, hal-hal yang selama ini tertimbun mulai muncul ke permukaan.
Kita mulai sadar, ternyata kita tidak terlalu suka pekerjaan kita selama ini. Atau ternyata hubungan dengan pasangan sudah lama hambar, hanya saja kita tidak punya waktu untuk merasakannya. Atau ternyata mimpi yang kita kira sudah dilupakan, sebenarnya masih hidup, masih menunggu, hanya tertidur di balik tumpukan tanggung jawab.
Sendirian adalah laboratorium kejujuran. Tidak ada orang lain yang kita coba kesankan. Tidak ada peran yang harus dimainkan. Hanya kita dan apa yang sesungguhnya kita rasakan.
Belajar Memulai
Saya tidak menyarankan langsung pergi retreat tujuh hari ke gunung. Itu drastis dan tidak realistis. Mulailah dari yang kecil.
Coba duduk di teras selama lima belas menit tanpa ponsel. Cuma duduk. Boleh dengan teh atau kopi. Tidak harus melakukan apa-apa. Awalnya akan terasa aneh, gelisah, seolah ada yang harus dikerjakan. Lewati rasa itu. Tunggu sampai pikiran mulai tenang sendiri.
Coba makan siang sendirian di kafe, tanpa membaca ponsel atau buku. Cuma kamu, makananmu, dan keberadaan di tempat itu. Perhatikan orang-orang lewat. Dengarkan obrolan di meja sebelah. Cicipi makanan dengan perhatian penuh.
Coba berjalan kaki di pagi hari, tanpa playlist. Sepuluh menit cukup. Dengarkan suara langkah sendiri, dengarkan suara kota mulai bangun, dengarkan suara napas sendiri.
Hadiah dari Sendirian
Setelah konsisten beberapa minggu, sesuatu akan berubah. Kamu mulai tidak lagi takut sunyi. Kamu mulai menikmati menjadi teman bagi diri sendiri. Dan yang menarik, hubunganmu dengan orang lain juga ikut berubah.
Karena ketika kita nyaman dengan diri sendiri, kita tidak lagi bergantung pada orang lain untuk merasa utuh. Kita berhenti memaksakan diri menjadi orang yang menyenangkan. Kita berani jujur. Kita berani diam ketika tidak ada yang perlu dikatakan. Dan hubungan-hubungan yang lahir setelah itu cenderung lebih dalam, lebih jujur, lebih lega.
Penutup
Henry David Thoreau, penulis Amerika yang hidup di hutan dua tahun lebih, menulis kalimat yang masih relevan sampai sekarang: “Saya tidak pernah menemukan teman yang sama menyenangkannya seperti sendirian.” Mungkin terlalu ekstrem untuk kita yang hidup di kota. Tapi intinya saya pahami—kalau kita belum berteman dengan diri sendiri, hubungan apa pun di luar sana akan terasa kurang.
Sunyi bukan musuh. Ia justru guru yang paling sabar—asal kita bersedia duduk sebentar dan mendengar.
