Kakek saya tinggal di rumah kecil di kampung. Lantainya semen. Dindingnya kayu yang sudah mulai lapuk di beberapa sudut. Perabotannya terbatas—satu meja kayu jati tua, beberapa kursi rotan, almari yang lebih tua dari saya. Tidak ada AC, tidak ada televisi besar, tidak ada perabot modern apa pun.
Tapi setiap kali saya berkunjung ke sana, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Damai. Cukup. Seolah waktu berjalan lebih lambat, dan setiap detik dihargai dengan benar.
Sementara itu, rumah saya di kota dipenuhi barang-barang. Lemari penuh baju yang separuhnya tidak pernah saya pakai. Dapur penuh peralatan masak yang dibeli karena promo. Ruang tamu dengan TV besar yang jarang ditonton karena saya selalu menonton di ponsel. Dan anehnya, di tengah semua kemewahan itu, saya sering merasa tidak cukup. Selalu ada yang kurang.
Apa yang Membuat Sederhana Itu Mewah?
Saya sering bertanya, kenapa rumah kakek terasa lebih kaya dari rumah saya, padahal isinya jauh lebih sedikit? Setelah lama saya pikirkan, saya menemukan jawabannya: yang sedikit di rumah kakek punya tempat dan makna. Setiap barang di sana dipilih, dirawat, dipakai. Tidak ada yang sia-sia.
Sementara di rumah saya, banyak barang yang ada hanya karena saya bisa membelinya. Bukan karena dibutuhkan. Bukan karena dicintai. Hanya ada di sana, memenuhi ruang, sambil diam-diam menambah beban di kepala saya.
Ada hubungan yang aneh antara jumlah barang dan kenyamanan batin. Semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak yang harus kita rawat. Semakin banyak yang harus kita atur. Semakin banyak yang harus kita pikirkan. Pada titik tertentu, harta benda berhenti menjadi pelayan kita, dan kita yang jadi pelayan mereka.
Konsumerisme yang Diam-Diam Menjerat
Kita hidup di zaman ketika seluruh sistem ekonomi didesain untuk membuat kita terus membeli. Iklan masuk ke setiap layar yang kita pegang. Influencer ditugaskan untuk membuat hidupnya terlihat begitu sempurna sampai kita merasa hidup kita kurang. Diskon, flash sale, paylater—semua dirancang untuk membuat keputusan beli terasa mendesak.
Dan kita, sebagai konsumen, terus-menerus dibombardir dengan pesan yang sama: “Kamu belum cukup. Beli ini, baru kamu lengkap.” “Hidupmu masih kurang. Punya ini, baru kamu bahagia.”
Padahal, ketika hal itu dibeli, perasaan “cukup” hanya bertahan beberapa hari—lalu iklan berikutnya datang, dengan pesan yang sama. Lingkaran tidak pernah berakhir.
Kesederhanaan adalah pemberontakan kecil terhadap sistem ini. Ia mengatakan: saya tidak ikut serta dalam permainan ini. Saya tidak akan membiarkan dompet saya dikendalikan oleh ketakutan akan “tidak cukup”.
Bukan Tentang Kemiskinan
Saya harus klarifikasi. Kesederhanaan bukan kemiskinan. Bukan juga gaya hidup ascetic ekstrem yang menolak semua kenyamanan. Kesederhanaan adalah kesadaran—kesadaran tentang apa yang benar-benar kita butuhkan dan apa yang hanya kita inginkan.
Orang yang sederhana boleh punya mobil bagus, kalau itu memang dibutuhkan dan dipakai dengan utuh. Tapi dia tidak akan beli mobil ketiga hanya karena bisa. Dia boleh berlibur ke luar negeri kadang-kadang, tapi tidak setiap bulan untuk memamerkan ke media sosial.
Kesederhanaan adalah kebebasan dari paksaan untuk terus menambah. Bebas dari rasa harus selalu update. Bebas dari kompetisi yang tidak pernah dimenangkan.
Belajar Memilih
Praktiknya, kesederhanaan dimulai dari kemampuan memilih. Memilih dengan sadar—bukan refleks belanja yang dipicu emosi atau iklan.
Coba ini: sebelum membeli sesuatu yang nilainya cukup besar, beri jeda dua minggu. Kalau setelah dua minggu kamu masih ingin, kemungkinan itu kebutuhan. Kalau dalam dua minggu kamu lupa, itu cuma keinginan sesaat.
Atau: sebelum beli barang baru, buang atau sumbangkan satu barang lama. Aturan satu-masuk-satu-keluar ini secara alami membatasi penumpukan.
Atau: tanyakan, “Apakah barang ini akan masih saya pakai dua tahun lagi?” Kalau jawabannya tidak yakin, mungkin lebih baik dilewatkan.
Sederhana dalam Pikiran
Kesederhanaan tidak hanya tentang barang. Ia juga tentang pikiran. Berapa banyak hal yang setiap hari kita pikirkan, padahal sebenarnya tidak relevan dengan hidup kita? Gosip selebriti yang tidak kita kenal. Drama di linimasa media sosial. Perdebatan tentang hal-hal yang tidak akan pernah berubah hanya karena kita berdebat.
Sederhana dalam pikiran berarti memilih dengan sadar apa yang layak diperhatikan. Tidak semua informasi perlu masuk. Tidak semua drama perlu diikuti. Tidak semua opini perlu kita punya.
Hadiah Tersembunyi Kesederhanaan
Yang menarik dari hidup sederhana adalah hadiah-hadiah tersembunyi yang muncul. Kamu punya lebih banyak waktu—karena tidak habis merawat banyak hal. Kamu punya lebih banyak uang—karena tidak habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan. Kamu punya lebih banyak ruang batin—karena tidak sesak oleh ambisi yang tidak penting.
Dan yang paling penting: kamu punya kemampuan untuk benar-benar menikmati hal-hal kecil. Karena kamu sudah tidak terdistraksi oleh keinginan untuk terus menambah.
Kakek saya hidup sampai usia delapan puluh empat tahun. Sehat, ceria, tidak pernah tampak stres. Saya pernah bertanya kepada nenek apa rahasianya. Nenek menjawab dengan kalimat sederhana: “Kakekmu gak punya banyak. Tapi setiap yang dia punya, dia syukuri.”
Saya menulis kalimat itu di catatan ponsel. Sampai sekarang masih ada di sana. Setiap kali saya merasa ingin beli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu, saya buka catatan itu. Kebanyakan waktu, niat beli itu hilang.
Kesederhanaan bukan kemiskinan. Ia adalah kemewahan tertinggi—kemewahan untuk hidup dengan pikiran yang tidak berisik, dan dada yang tidak penuh dengan apa yang belum dipunya.
